Langsung ke WhatsApp

Wisata Bintan

City Tour Tanjung Pinang: Enam Perhentian dan Urutannya

Tanjung Pinang sudah jadi pusat Kesultanan Riau-Lingga jauh sebelum ada resor di Lagoi, dan city tour di sini isinya sejarah, dua tempat ibadah, dan pusat jajan malam — bukan belanja. Dari kawasan resor perjalanannya satu jam sekali jalan, jadi ini rencana sehari penuh — dan urutan perhentiannya lebih menentukan daripada pilihan perhentiannya.

City tour di sini itu apa, dan bukan apa

Tanjung Pinang bukan bagian dari Kabupaten Bintan — ini kota tersendiri di selatan pulau yang sama, dan ini yang lebih tua. Kesultanan Riau-Lingga dijalankan dari Pulau Penyengat di depan pelabuhannya, komunitas dagang Tionghoa yang membangun Senggarang dan deretan ruko datang menyusul, dan sebagian besar yang dilihat pengunjung dalam sehari adalah salah satu dari dua sejarah itu yang berdiri berdampingan.

Yang jelas bukan belanja. Memang ada pasar dan ada ruko, tapi jangan menyeberangi pulau dengan harapan hari di mal. Daya tarik kotanya justru karena ia dihuni — masjid yang dibangun tahun 1832 masih jadi masjid Jumat, dan makan malamnya di meja plastik di sebuah lahan parkir yang baru ada setelah gelap. Tamu yang mencari pendingin ruangan dan merek lebih cocok naik feri ke Batam.

Bentuk praktis harinya: satu sampai satu seperempat jam dari Lagoi sekali jalan, dua dari enam perhentiannya di seberang air dengan perahu yang berangkat kalau sudah penuh, dan satu lagi baru buka setelah cahaya habis. Karena itu halaman ini berbentuk urutan, bukan daftar. Mulai dari pulaunya, tutup dengan makanannya, dan bagian tengahnya akan menyesuaikan sendiri.

Bentuk harinya

Angka-angka yang milik seluruh rute, bukan milik satu perhentian: berapa jauh masuknya, berapa lama jalannya, dan penyeberangan yang menentukan dua perhentian pertama.

  • Perjalanan masuk

    60–75 menit dari Lagoi

    10 menit dari Pelabuhan Sri Bintan Pura

  • Rute lengkapnya

    9–11 jam

    Dari hotel di Lagoi sampai kembali lagi, enam perhentian, sudah termasuk makan siang yang layak. Ambil sehari penuh, atau ambil salah satu dari tiga potongan di bawah.

  • Penyeberangan

    15 menit sekali jalan

    Pompong — perahu kayu kecil — dari pelantar, ke Penyengat dan menyeberang ke Senggarang. Berangkatnya kalau sudah penuh, bukan menurut jadwal, ongkosnya tunai, dan pelampung sebaiknya diminta, bukan ditunggu.

  • Wilayah

    Kota Tanjung Pinang

    Keenam perhentiannya ada di dalam Kota Tanjung Pinang, yang merupakan kota tersendiri dan bukan bagian Kabupaten Bintan — penting diingat saat membaca alamat atau menyebutkannya ke driver.

    Buka di Google Maps

Tiga cara memendekkan harinya

Enam perhentian berarti sehari penuh dari kawasan resor. Kalau waktunya tidak sepanjang itu, potonglah dari tengah, bukan dari kedua ujungnya — pulaunya butuh pagi, dan pusat jajannya hanya ada di malam hari.

  • Rute lengkap

    9–11 jam

    Keenamnya, berangkat dari Lagoi sekitar pukul delapan dan kembali sekitar pukul tujuh malam. Penyengat dan Senggarang sebelum makan siang selagi perahunya jalan, makan siang di kota, kelenteng dan kawasan ruko sepanjang sore, tepi laut saat matahari terbenam, dan Akau setelah gelap. Waktunya panjang di mobil, dan ini satu-satunya versi yang tidak membuang apa pun.

  • Setengah hari

    5–6 jam

    Penyengat, kelenteng, dan kawasan ruko, kembali ke Lagoi sebelum gelap. Versi ini mempertahankan bagian yang tidak boleh dilewatkan dan melepas dua yang hanya berfungsi di jamnya sendiri. Kalau Anda membawa anak kecil, ini versi yang sebaiknya dipilih.

  • Malamnya saja

    4–5 jam

    Berangkat dari resor sekitar pukul tiga, mampir ke kelenteng selagi masih buka, lalu tepi laut untuk matahari terbenam dan Akau untuk makan malam. Tanpa perahu dan tanpa pulau, jadi ini hari yang paling pendek dan paling sedikit waktu di mobil — dan makan malamnya memang hal terbaik di kota ini.

Enam perhentian, dalam urutan harinya

Bukan urutan terbaik ke terburuk. Urutannya jam: perahunya butuh pagi, kelentengnya lebih nyaman setelah matahari turun dari pelatarannya, tepi lautnya baru berarti saat matahari terbenam, dan pusat jajannya belum buka sebelum gelap.

  1. Pulau Penyengat

    Pulau pusat kesultanan, lima belas menit dari pelabuhan

    1 / 6

    • Wilayah: Tanjung Pinang Kota
    • Cara mencapainya: Menyeberang naik pompong
    • Alokasi waktu: 120–150 menit

    Pulau kecil di mulut pelabuhan yang dulu jadi kedudukan Kesultanan Riau-Lingga dan, untuk satu masa, pusat keilmuan Melayu — bahasa yang kemudian menjadi bahasa Indonesia dibakukan lewat kitab yang ditulis di sini. Masjid Raya Sultan Riau tahun 1832 masih berdiri di atas dermaga, kuning dan hijau, dan menurut cerita warganya dibangun dengan putih telur pada adukannya. Di sekitarnya ada makam para sultan, termasuk makam Raja Ali Haji, serta reruntuhan istana dan benteng lama di semak belakangnya. Keliling pulaunya naik bentor — becak motor — yang disewa per jam di dermaga, karena berjalan kaki di tengah hari terlalu berat untuk kebanyakan orang.

    Yang ada di sana

    • Masjid Raya Sultan Riau, dibangun 1832
    • Kompleks makam sultan, termasuk Raja Ali Haji
    • Reruntuhan istana dan Benteng Bukit Kursi
    • Bentor sewa per jam di dermaga

    Cocok untuk

    Siapa pun; satu perhentian yang jangan dilepas

  2. Senggarang: Vihara Dharma Sasana

    Kampung Tionghoa di atas air, dan vihara di dalam akar beringin

    2 / 6

    • Wilayah: Tanjung Pinang Kota
    • Cara mencapainya: Menyeberang naik pompong
    • Alokasi waktu: 60–90 menit

    Di seberang teluk dari pusat kota, kampung rumah panggung di atas air yang dicapai lewat jembatan papan, dengan sekumpulan vihara di ujungnya. Yang dicari semua orang adalah vihara tua yang dindingnya dipeluk akar beringin yang tumbuh menembusnya — berumur tiga ratus tahun menurut warganya sendiri, dan tidak ada bandingannya di pulau ini. Vihara Dharma Sasana di sebelahnya adalah vihara yang aktif, dengan pelataran sendiri dan pemandangan kembali ke arah pelabuhan. Suasananya tenang, tidak ditata untuk pengunjung, dan justru itu daya tariknya.

    Yang ada di sana

    • Vihara berakar beringin di ujung jembatan papan
    • Vihara Dharma Sasana dan pelatarannya
    • Jembatan papan kampung di atas air
    • Pemandangan kembali ke arah pelabuhan

    Cocok untuk

    Yang menikmati Penyengat; kurang cocok bila sulit berjalan di papan

  3. Vihara Ksitigarbha Bodhisattva (Kelenteng Patung Seribu)

    Patung arhat batu menaiki bukit tertata di Air Raja

    3 / 6

    • Wilayah: Tanjung Pinang Timur
    • Cara mencapainya: Mobil berhenti di depan
    • Alokasi waktu: 45–60 menit

    Kelenteng yang fotonya ada di halaman wisata situs ini, dan perhentian yang paling sering mengejutkan tamu: barisan patung arhat batu seukuran manusia menaiki lereng yang ditata, dengan patung Guan Yin putih berdiri di atasnya dan aula utama di puncaknya. Jaraknya lima belas sampai dua puluh menit ke arah dalam dari pusat kota, dan itu sebabnya ia ditaruh setelah makan siang di rute ini, bukan digabung dengan dua vihara di seberang air. Kelenteng ini punya halaman sendiri di sini, lengkap dengan jam, tata krama, dan isi kompleksnya.

    Yang ada di sana

    • Barisan patung arhat dari batu
    • Patung Guan Yin di atas pelataran
    • Aula utama dan taman di belakangnya
    • Masuk gratis; kotak dana di dekat aula

    Cocok untuk

    Semua orang; bahu dan lutut tertutup

  4. Jalan Merdeka dan Pasar Baru

    Deretan ruko lama dan pasar, lima menit dari dermaga

    4 / 6

    • Wilayah: Tanjung Pinang Kota
    • Cara mencapainya: Mobil berhenti di depan
    • Alokasi waktu: 45–60 menit

    Blok-blok di belakang tepi laut adalah pecinan lama — ruko dua lantai yang sebagian besar masih berdagang, pasar basah yang mulai sebelum subuh, dan pasar kering yang buka seharian. Ini perhentian yang paling tidak ditata untuk pengunjung dan yang paling menunjukkan kotanya apa adanya: sarapan di kopitiam, ikan kering, kain, toko emas, dan satu lapak otak-otak yang sudah puluhan tahun di pintu yang sama. Setengah jam berjalan kaki sudah cukup, dan jalannya cukup sempit sehingga mobil sebaiknya ditinggal di tepi laut.

    Yang ada di sana

    • Jalan Merdeka dan blok rukonya
    • Pasar Baru, basah dan kering
    • Sarapan kopitiam dan otak-otak
    • Jalan kaki; mobil ditinggal di tepi laut

    Cocok untuk

    Yang lebih suka berjalan sendiri daripada diantar berkeliling

  5. Taman Laman Boenda (Gurindam 12)

    Taman tepi laut, satu-satunya tempat menunggu senja di kota

    5 / 6

    • Wilayah: Tanjung Pinang Kota
    • Cara mencapainya: Mobil berhenti di depan
    • Alokasi waktu: 45–60 menit

    Taman Laman Boenda di kawasan Tepi Laut, tempat warga keluar rumah menjelang sore: promenade lebar di pinggir air dengan bait-bait Gurindam 12 — karya Raja Ali Haji yang jadi penanda sastra kota ini — dipasang di sepanjangnya. Ada masjid di satu ujung, gerobak jajanan di ujung lain, dan seluruhnya menghadap barat ke arah pelabuhan. Ini tempat berjalan dan duduk, bukan tempat menonton sesuatu, dan pukul enam sore ia jadi yang terbaik di Tanjung Pinang.

    Yang ada di sana

    • Bait-bait Gurindam 12 di sepanjang promenade
    • Matahari terbenam di atas pelabuhan
    • Masjid di ujung kawasan tepi laut
    • Gerobak jajanan dan keramaian sore

    Cocok untuk

    Semua orang, di jam terakhir sebelum gelap

  6. Akau Potong Lembu

    Lahan parkir yang jadi ruang makan kota, setelah pukul lima

    6 / 6

    • Wilayah: Tanjung Pinang Kota
    • Cara mencapainya: Mobil berhenti di depan
    • Alokasi waktu: 60–90 menit

    Siang hari tempat ini lahan parkir. Sekitar pukul lima ia dipenuhi lapak dan meja plastik lalu berubah jadi tempat Tanjung Pinang makan: seafood bakar, gonggong — siput laut khas sini yang dicungkil pakai tusuk gigi — otak-otak, mie tarempa, sup ikan, dan puluhan hal lain. Anda memesan dari lapak mana pun yang Anda suka dan mereka mengantarkannya ke meja. Ramai, tunai, tidak ber-AC, dan inilah perhentian yang diingat tamu setelah seluruh isi harinya terlupa.

    Yang ada di sana

    • Gonggong, siput laut khas sini
    • Seafood bakar, dipesan lapak per lapak
    • Mie tarempa dan sup ikan
    • Buka sekitar pukul lima; tunai saja

    Cocok untuk

    Semua orang; datanglah dalam keadaan lapar

Wilayah, alokasi waktu, dan lama penyeberangan dihimpun pada September 2026 dari entri Google Maps tiap lokasi, daftar destinasi Dinas Pariwisata Kota Tanjung Pinang, dan catatan perjalanan driver kami. Alokasi waktunya adalah lama driver kami benar-benar menunggu, bukan lama sebuah tempat bisa menahan Anda, dan penyeberangannya bergerak mengikuti kondisi laut dan seberapa cepat perahunya penuh. Halaman ini tidak mencantumkan ongkos pompong, tarif bentor di Penyengat, maupun harga di Akau: ketiganya tunai, ketiganya berubah, dan angka yang salah hanya membuat Anda berdebat tanpa perlu. Ini juga satu dari beberapa rute yang mungkin — tamu dengan minat tertentu tinggal menyebutkannya dan kami susun ulang.

Yang perlu disiapkan sebelum berangkat

  • Berpakaian untuk dua tempat ibadah

    Masjid di Penyengat dan kelentengnya sama-sama masih dipakai. Bahu dan lutut tertutup untuk semua orang, alas kaki dilepas di tempat yang diminta, dan masjidnya menyediakan kain di pintu untuk yang datang kurang tertutup. Menyiapkannya tidak memakan biaya apa pun, dan itu diperhatikan.

  • Bawa uang tunai, pecahan kecil

    Pompong, bentor di Penyengat, parkir, pasar, dan semua yang ada di Akau berlaku tunai. Kartu itu untuk mal, dan ATM ada di kota, bukan di perhentiannya. Pecahkan uang Anda sebelum menyeberang.

  • Makan malamnya di Akau, jangan buru-buru kenyang

    Tidak ada yang buka di Akau Potong Lembu saat siang — sampai sekitar pukul lima tempat itu masih lahan parkir. Rencanakan makan siang yang ringan di kota dan simpan selera untuk malamnya. Inilah perhentian yang diceritakan tamu setelah pulang, dan biasanya bukan yang mereka duga.

  • Hindari Jumat siang

    Salat Jumat mengosongkan toko dan memenuhi masjid di Penyengat antara sekitar pukul sebelas sampai satu, dan itu jam yang keliru untuk berjalan-jalan di keduanya. Geser pulaunya ke pagi buta, atau seluruh harinya ke tanggal lain.

Satu driver, satu mobil, seharian di Tanjung Pinang

Sebutkan tanggalnya, berapa orang, dan titik penjemputannya. Kami siapkan unit yang muat untuk rombongan dan driver yang hafal kotanya — termasuk di mana mobil sebaiknya ditinggal untuk menyusuri kawasan ruko, dan pelantar mana yang perahunya benar-benar berangkat ke Penyengat.